Sumber : https://wayansupadno.com/2023/06/11/penas-ktna-kali-ini-sangat-produktif/
_Ilmu hikmah_
Wayan Supadno.
Setiap saya mengikuti kegiatan, apalagi skala nasional. Konkretnya Penas (Pekan Nasional) KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) ke XVI, di Padang Sumbar kali ini. Juga saya kaji ulang, diambil ilmu hikmahnya. Jadi pembelajaran. Kesimpulan saya, sangat produktif. Luar biasa.
1. Daya Dukung Tiket, Hotel dan Kendaraan.
Semua tiket penerbangan penuh, saya berangkat bersama Istri dan kedua anak. Kamar hotel mulai bintang 5 hingga penginapan terbukukan info yang saya dapatkan 23.000 kamar penuh. Solusinya banyak yang numpang di rumah penduduk.
Begitu juga sarana mobilisasi kendaraan roda 4, hingga saya minta staf saya untuk pesan kontrak 4 hari. Takut tidak kebagian. Seperti hotel hingga pindah 3 hotel. Persis peminta - minta kamar dari hotel ke hotel. Duuuh. Gagal antisipasi saya.
2. Peserta dan Morilnya.
Petani Nelayan hadir 28.000 orang. Terbanyak dari Kalimantan, ribuan orang. Karena 1 provinsi saja lebih dari 300 orang. Sulawesi Tenggara saja dari unsur pimpinan yang sempat ngobrol dengan saya memberangkatkan 233 orang petani nelayan.
Morilnya sangat tinggi, indikasinya karena dominan dari peserta yang memakai dana pribadi. Termasuk saya juga. Maklum kami sangat kangen untuk jumpa dengan sesama petani. Penas terakhir 2017, tertunda jadwal 2020 karena Pandemi Covid.
3. Pameran, Gelar Teknologi dan Kebun Percontohan.
Sangat edukatif. Nuansa warna pekat inovatif kekinian. Di Pameran berjubel, sampai - sampai Istri saya mengeluh. Ini mah, bukan lihat pameran tapi melihat kepala orang berjubel multi suku. Memang jadi tidak nyaman karena kurang luas tempatnya.
Saya menyimak banyak yang transaksi pada pameran tersebut. Termasuk yang menjual Drone dan Teknologi lainnya di pameran. Beragam produk olahan hilir antar Provinsi dan Kabupaten seolah lomba. Jauh lebih welcome, jiwa marketernya nampak jelas.
Pada area yang luas Gelar Teknologi dan Percobaan, saya terpesona. Memang harus seperti ini. Para peneliti/inovator berusaha merangkul praktisi. Untuk hilirisasi inovasinya. Kami sekeluarga sangat puas, Puslit/Balit BPSIP pada unjuk kehebatan inovasinya.
Pendek kata, kalau mau jadi praktisi agribisnis inovatif. Di sinilah ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi lagi diobral. Kita dimanja oleh para ilmuwan inovator. Tinggal ATP (Amati, Tiru, Plek) atau ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) dengan scale up. Beres. Kontan oleh Pakarnya. Penemu inovasinya.
4. Rembug Nasional.
Di sini para Tokoh Nasional pada kumpul. Menyatukan pendapatnya lalu memberikan rekomendasi ke Pemerintah, yang isinya :
A. Punya optimisme yang tinggi Indonesia tiada kelaparan. Bahkan Indonesia bisa jadi Lumbung Pangan Dunia Tahun 2045. Tentu pada komoditas yang agroklimatnya cocok dikembangkan di Indonesia. Karena semangat bersilaturahmi, belajar dan bersinergi bersama KTNA.
B. BPS (2019) petani usia 20 s/d 39 tahun hanya 8%, sisanya 40 tahun ke atas. Dominan usia 50 s/d 60 tahun. BPS (2017) luas baku sawah 7,75 juta hektar, BPS (2018) menyusut tinggal 7,1 juta hektar. Sawah tadah hujan juga masih luas tidak bisa menanam 2 kali/tahun, harus dibangun bendungan dan irigasi agar bisa menanam 2 kali/tahun.
Hanya manusia yang diselimuti rasa iri dengki yang tidak bisa ikut bersyukur dan bangga atas karya besar untuk Bangsa Indonesia ini.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630
