Sumber : https://wayansupadno.com/2023/07/01/eropa-mengigau-di-siang-bolong/
_Ilmu hikmah_
Wayan Supadno.
Uni Eropa, lagi jadi perhatian dunia. Karena EUDR, UU pelarangan pasar komoditas yang dianggap merusak hutan. Di antaranya sawit, kakao, kopi, sapi, karet dan kayu. Pendek kata komoditas tersebut dilarang masuk ke Uni Eropa. Persis, mengigau di siang bolong.
Sisi lain, mereka marah besar hingga membuat gugatan ke WTO, kepada Indonesia yang melarang ekspor bahan mentah tambang mineral. Di antaranya bauksit, nikel dan lainnya. Jelas mengigau juga, merasa paling pandai. Padahal demi industrinya agar tetap punya bahan baku.
Sisi lain lagi, ada juga kelompok kecil orang Indonesia. Yang sepertinya pro dengan Uni Eropa tersebut. Mengigau juga. Lupa itu hanyalah taktik perang dagang. Adu domba. Tak ubahnya proses hancurnya kelapa masa Orba, kampanye hitam tanpa kendali.
Dengan dalih jadi sebab sakit jantung dan kolesterol. Tapi faktanya saat ini kelapa justru jadi idola dunia, tapi punya kita sudah terbengkalai dan menyusut 500.000 ha, dari 3,6 juta hektar tinggal 3,1 juta hektar. Dampaknya sekalipun kelapa terluas di dunia, tapi devisanya kalah dengan Filipina.
Pak Luhut akan memutihkan kebun sawit 3,3 juta hektar yang masuk kawasan kehutanan. Dengan berbagai pertimbangan di antaranya, selama ini CPO nya dikenai pajak ekspor dan pungutan ekspor. Seluas 1,9 juta hektar milik petani dengan jumlah hampir 1 juta kepala keluarga.
Ratusan ribu hektar sudah status sertifikat hak milik (SHM) milik masyarakat transmigrasi tentu sudah dibangun banyak perumahan, sekolah dan kantor pemerintahan dengan legalitasnya. Juga milik Pemda yang tumpang tindih dengan kawasan kehutanan. Tentu sudah dibangun dengan dana APBN/APBD.
Yang terpenting lagi, tidak mungkin dicabuti lagi sawit tersebut. Begitu juga kakao, kopi dan karetnya yang di kawasan kehutanan. Karena tidak bisa dipungkiri sebagian dari kebun tersebut dulunya bukan hutan lagi. Tapi semak belukar dan gundul bekas HPH (Hak Penguasaan Hutan) dan pembalakan liar.
Uni Eropa dan Kelompok Kecil Orang Indonesia, yang pro Uni Eropa tersebut. Persis perokok di ruang merokok. Habis puas merokok, lalu keluar dari ruang merokok, lalu ngomel - ngomel tidak tentu arah menunjuk - nunjuk yang di dalam ruang merokok dihakimi penyebab pengapnya udara di dalamnya.
Karena Uni Eropa sudah lebih duluan, lebih senior dan lebih berpengalaman membabat hutannya. Hingga 70 juta hektar lebih untuk menanam gandum, kedelai, bunga matahari dan lainnya. Maunya mereka cuci tangan tanpa tanggung jawab. Tanpa memikirkan jutaan petani sawit, kopi, kakao dan karet.
Sekali lagi, kita harus makin dewasa dan sadar bahwa di balik ini semua adalah bagian dari intrik. Taktik perang dagang saja. Karena takut masa depan mereka makin suram, tanpa dapat bahan baku nikel dan lainnya. Sekaligus pasar minyak nabati dari kedelai, bunga matahari dan lainnya.
Pangsa pasarnya minyak nabati mereka makin habis dikuasai oleh sawit. Kalkulasi logisnya, sawit jauh lebih murah. Karena berpotensi mampu menghasilkan 7,5 ton/ha padahal bunga matahari dan kedelai hanya 1,5 ton/ha. Tentu tingkat borosnya memakai lahan bekas hutan mereka jauh lebih boros 5 kali lipatnya dari sawit.
Kesimpulan, negara Indonesia milik kita ini adalah negara berdaulat. Perjalanan masa lalu hal kelapa, penjajahan ratusan tahun dan kita memperkaya mereka dengan setia jadi vendor bahan baku industri baja nikel dan lainnya. Harus jadi ilmu hikmah, sumber pembelajaran.
Jangan mau lagi kita diadu domba. Indonesia berhak jadi negara maju, rakyatnya makmur sejahtera.
Siaaap Grak !
Majuuu Jalan !
Lawan Imperialis Regulasi Barat !
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630
