Sumber : https://wayansupadno.com/2023/06/15/pura-pura-miskin/
_Ilmu hikmah_
Wayan Supadno.
Sejak saya mulai usaha sambil dinas militer di Rindam I/BB Pematang Siantar Sumut. Sejak Januari 1995 hingga 1997, saya pura - pura miskin. Sekalipun akhir tahun 1997 passive income sudah di atas Rp 150 juta/bulan. Dinas militer tetap jalan. Manajemen jarak jauh.
Deposito sudah miliaran karena hasil dari jualan karung bekas, cangkang sawit, pinang, ikan mas, sekam padi, kayu teh sisa peremajaan di PTPN IV dan lainnya. Saya masih tetap memakai Sepeda Motor Vespa 1963 dari Kongo. Taktik pura - pura miskin sangat penting.
Sungguh sangat heran, jika ada orang cerdas pendidikannya tinggi bahkan hingga lulusan pascasarjana S2. Tapi mengeluh tidak punya modal banyak jadinya tidak bisa jadi pengusaha. Seolah tidak percaya diri, tidak percaya atas kemampuan dirinya.
Tidak percaya dirinya rahmat dan sentosa dari-Nya. Justru seolah lebih percaya dengan kekuatan modal. Ini fatal bagi saya. Tidak punya modal banyak jadi kambing hitam, sehingga belum jadi pengusaha. Kejadian seperti ini sudah terlalu banyak saya dapat keluhan.
Kenapa saya bilang seperti itu ?
Tentu karena banyak referensinya di lapangan. Banyak kisah pengusaha sukses justru dominan dari usaha kecil sekali. Dibesarkan dan berkelanjutan. Bahkan dari tiada jadi ada. Terkecuali yang bersangkutan tidak minat jadi pengusaha.
Begitu juga pengalaman saya pribadi. Tanggal 16 Januari 1995, saya utang Primkopad Rindam l/BB, sebanyak Rp 700.000. Peruntukannya Rp 200.000 ucapan terima kasih ke dokter menolong anak saya lahir, Rp 400.000 beli Vespa Kongo dan Rp 100.000 jadi modal usaha.
Sering kali saya diledeki, Si Perwira Vespa Kongo. Buat saya bukan masalah. Sing penting nyatane, deposito saya sudah miliaran. Tiap bulan laba Rp 75 juta dari royalti jualan cangkang sawit 3.000 ton/bulan atau 4 tronton/hari. Mengganti batu bara di pabrik kertas raksasa.
Alkisah, suatu hari tengah terik matahari. Jam istirahat. Pakaian dinas militer pangkat Letda. Kondisi jalan di tanjakan terjal bisa mundur karena mesinnya tua. Jadi tertawaan orang di dalam bus banyak sekali, pas di depan saya. Juga bukan masalah.
Cara menyiasati agar laba ratusan juta per bulan tapi modal ratusan ribu saja. Tentu harus miliaran jumlah transaksinya. Tentu memakai modal orang lain, pemilik truk misalnya. Saya bayar setelah invoice cair. Cangkang bagi hasil dengan pemilik modal. Saya tahu diri.
Karung bekas, transaksinya ratusan juta. Pembelinya saya minta membayarkan duluan. Ikan mas dari Danau Maninjau saya bayar 1 minggu. Pinang saya minta bayar 1,5 bulan setelah pinang laku, dari pada berserakan mendingan jadi puluhan juta per bulan.
Begitu juga pengelola usaha, saya percayakan tim. Leadership. Agar dinas militer tidak terganggu. Pura - pura miskin agar aman. Tiada halang rintang dan hambatan antisipasi kalau ada yang iri dengki. Apalagi doktrin TNI ketat harus bersahaja. Akhirnya sama semua berjalan paralel.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630
